RUPIAH

Bank Dunia Beri Saran Strategis Hadapi Pelemahan Rupiah Indonesia

Bank Dunia Beri Saran Strategis Hadapi Pelemahan Rupiah Indonesia
Bank Dunia Beri Saran Strategis Hadapi Pelemahan Rupiah Indonesia

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), didorong oleh kombinasi gejolak politik singkat dan pelonggaran kebijakan moneter yang lebih cepat dari fundamental ekonomi. 

Bank Dunia atau World Bank menyoroti kondisi ini dalam laporan Global Economic Prospects yang diterbitkan Januari 2026.

Menurut lembaga internasional ini, arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia semakin memperburuk depresiasi rupiah. Pada perdagangan 13 Januari 2026, rupiah ditutup melemah 0,19% ke level Rp16.865/US$, dan sempat menembus rekor terlemah sepanjang sejarah di angka Rp16.878/US$. 

Kondisi ini menunjukkan sentimen global yang memburuk serta ketidakpastian ekonomi domestik yang masih membayangi pasar.

Bank Dunia menekankan bahwa intervensi bank sentral diperlukan untuk menahan pelemahan lebih lanjut, sekaligus menjaga stabilitas keuangan dan kepercayaan investor. 

Situasi ini menjadi perhatian utama, mengingat nilai tukar yang stabil menjadi salah satu fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dampak Lingkungan Global terhadap Ekonomi Domestik

Selain faktor domestik, kondisi perdagangan internasional juga memengaruhi rupiah. Hambatan perdagangan yang meningkat dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dapat menekan ekspor Indonesia, sekaligus memengaruhi pertumbuhan lapangan kerja di kawasan Asia Pasifik. 

Bank Dunia menyoroti risiko tambahan berupa ketatnya kondisi keuangan global, perlambatan pertumbuhan di China, ketidakpastian politik, keresahan sosial, dan potensi bencana alam.

Meski begitu, terdapat sisi positif. Peningkatan produktivitas dari adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) dan kesiapan digital yang lebih tinggi dapat mendukung ekonomi regional. 

Antusiasme terhadap AI memicu kenaikan signifikan di pasar ekuitas, yang diikuti arus masuk modal besar di kawasan Asia Timur dan Pasifik, meski Indonesia mengalami dinamika berbeda karena faktor arus keluar modal dan pelemahan rupiah.

Inflasi di sebagian besar negara Asia Timur dan Pasifik melambat, berada di dalam atau di bawah target bank sentral, dengan kebijakan moneter bersifat akomodatif. 

Di Indonesia, inflasi masih dipengaruhi kenaikan harga barang yang didorong stimulus fiskal, sementara depresiasi dolar AS turut membantu menstabilkan kondisi keuangan global pada paruh kedua 2025.

Strategi Bank Indonesia dan Kebijakan Fiskal

Bank Dunia menyarankan Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi yang lebih strategis untuk menjaga nilai tukar rupiah. Langkah ini bisa berupa penyesuaian suku bunga acuan, intervensi langsung di pasar valuta asing, maupun kebijakan pendukung likuiditas untuk menahan arus keluar modal.

Di sisi lain, pemerintah diharapkan terus memanfaatkan stimulus fiskal dan investasi yang dipimpin negara sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi. 

Investasi swasta di Indonesia memang masih lesu dibanding kebutuhan, namun dukungan pemerintah dan investasi asing langsung menjadi faktor penting untuk menjaga momentum ekonomi.

Koordinasi antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah menjadi kunci agar pelemahan rupiah tidak berlarut, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil. 

Intervensi terarah juga diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong arus masuk modal baru.

Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di level 5%, lebih rendah dari target pemerintah 5,4%. Lembaga ini juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 berada pada level yang sama. 

Pemerintah baru akan merilis data pertumbuhan kuartal IV 2025 dan keseluruhan tahun pada awal Februari 2026.

Menurut laporan Global Economic Prospects, aktivitas ekonomi di Asia Timur dan Pasifik diperkirakan melambat tahun ini sebelum meningkat tahun depan. 

Perlambatan ini sejalan dengan berakhirnya kebijakan front-loading, meski investasi di beberapa negara akan meningkat karena dukungan kebijakan domestik.

Di Indonesia, pertumbuhan diperkirakan tetap berkelanjutan berkat stimulus fiskal dan investasi yang dipimpin negara. Meski investasi swasta di kawasan regional masih lesu, inisiatif pemerintah dan dukungan investasi asing langsung di Indonesia menjadi faktor yang mendorong pertumbuhan.

Kesimpulannya, meski rupiah mengalami tekanan dan pertumbuhan ekonomi sedikit melambat, kombinasi intervensi bank sentral, stimulus fiskal, dan investasi produktif diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi Indonesia sepanjang 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index